bintang jatuh

Minggu, 29 Juni 2014

Budidaya Tanaman Kakao



TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KAKAO
Tanaman kakao merupakan tanaman yang sudah lama dikembangkan oleh masyarakat Indonesia baik oleh perusahaan maupun petani perorangan. Karena tanaman ini memiliki kriteria khusus dalam perkembangan hidupnya, jadi tidak semua iklim dan tanah yang ada di Indonesia cocok untuk ditanami pohon kakao secara baik.   
 Iklim Yang Baik Untuk Tanaman Kakao atau Cokelat
Namun yang jelas, pohon cokelat atau kakao atau orang banyak yang menulis dengan ejaan coklat membutuhkan batas temperature tertentu. Budidaya kakao budidaya tanaman kakao atau budidaya coklat Kalau kita ambil garis besarnya, pohon kakao ini membutuhkan temperature rata-rata setahun 25 °C dengan temperature harian rata-rata terdingin tidak kurang dari 15 °C.  Absolut minimum tidak boleh lebih rendah dari 10 °C sedangkan maksimumnya sampai sekarang belum ada ketentuan.
Alasan temperatur rendah ini antara lain dapat dikemukakan sebagai sebab terjadinya pembungaan yang terlambat. Akibat dari penurunan temperatur di bawah 22°C, perkembangan rimordia bunga terhenti. Perkembangan akan menjadi normal kembali setelah suhu naik menjadi 25°C.    
Tanaman kakao ini juga tidak tahan terhadap penyimpangan temperature yang agak besar tiap harinya. Penyimpangan temperature harian dari 9 °C, menyebabkan mata-mata tunas akan mengembang dan tumbuh menjadi tunas. Hal tersebut bila terjadi dengan berulang-ulang maka persediaan makanan di dalam batangakan habis dan akibatnya pohon akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan, sehingga pembentukan bunga dan buahpun akan terganggu.
Tanah yang Baik Untuk Tanaman Kakao atau Cokelat  
Dari berbagai pendapat dan penelitian bahwa tanaman cokelat akan tumbuh dengan baik pada tanah yang mengandung humus dengan pH antara 6,1 - 7. Di Indonesia pohon cokelat akan dapat tumbuh subur di daerah yang curah hujannya lebih dari 3.000 mm, atau pada daerah yang curah hujannya 1.700 mm. jadi bila diperhatikan secara seksama bukan curah hujan yang penting, melainkan pembagiannya. Dengan demikian faktor tanah juga memegang peranan yang sangat penting.
Kalau kita melihat bentuk dan macamnya tanah yang akan dipersiapkan, dapatlah dibedakan sebagai berikut :
1.    Hutan (asli atau sekunder)
2.    Bekas tegal ataupun hama
3.    Bakas tanaman perkebunan yang lain (karet kopi, dan lain sebagainya).
Jarak Tanam  
Jarak tanam haruslah dilakukan / ditentukan terlebih dahulu sebelum pembukaan ataupun  persiapan dilakukan. Pemancangan patok-patok ataupun anjir-anjir semuanya ditentukan oleh jarak tanam kakao. Jarak tanam ini berbeda-beda. Apalagi antara negara satu dengan negara lainnya.
Kalau di Indonesia jarak tanam kelihatan lebih mantap, yaitu antara 4 m x 4 m ataupun 4 m x 4,5 m dan 5 m x 5 m. Di indonesia pun diadakan uji coba dengan jarak penanaman 4 m x 2 m. Pengujian ini dilakukan di Ngobo. Di daerah jatirono dicoba pula jarak tanam 2,5 m x 2 m, ternyata hasilnya lumayan baik.
Kakao dapat pula ditanam tanpa okulasi, yaitu yang disebut dengan nama tanaman semai. Karena tanaman semai ini hasilnya rendah, maka tanaman semai yang telah berusia setahun biasaanya disambung dengan klon-klon kualitas baik, yaitu: DR 1, DR 2 dan DR 38 atau bisa juga disambung dengan klon-klon KWC 1, DRC 13, DRC 15, dan DRC 16.
Sedangkan untuk batang bawah dibutuhkan biji-biji dari klon-klon yang tertentu pula agar dijamin pertumbuhan dan perakaran yang kuat. Untuk itu biasanya dipakai jenis klon DR 1, DR 2 G 8, dan GC 8, yang telah melalui p;ercobaan dan ujian-ujian dib alai penelitian.
Pemilihan Biji untuk Benih
Buah untuk keperluan benih, akan selalu diambil dari buah yang telah masak. Cara pengambilan bij-biji dari buah dilakukan dengan jalan memotong buah secara horizontal. Pemotongan ini dilakukan dengan hati-hati supaya tidakj merusak biji. Setelah itu biji-biji dikeluarkan dari buah. Untuk keperluan benih, maka sebaiknya diambilkan biji-biji yang berasal dari tengah.
Selaput daging buah yang menutupi biji harus dihilangkan. Sebab kalau tidak maka bihji tersebut akan dirusak oleh semut, karena pulp atau daging buah itu rasanya manis. Biasanya untuk menghilangkan pulp ini digunakan abu. Biji-biji tersebut dicampur dengan abu kemudian digosok-gosokan dengan kain lap. Setelah itu baru dicuci dengan air. Setelah biji dengan pulp itu terlepas, batu biji-biji itu dikecambahkan.
Hal yang penting harus kita ketahui ialah, biji coklat ini tidak sama dengan biji-biji tumbuhan lain. Sebab biji kakao ini tidak mempunyai masa istirahat, karena itulah jika yang telah disiapkan harus segera dikecambahkan.
Sebagai pengetahuan tambahan, perlu pula diterangkan kalau biji yang terlalu masak kurang baik untuk ditanam. Sebab biji tersebut telah berkecambah dalam buah. Dengan demikian kecambah-kecambah tersebut telah mati.
budidaya kakao, budidaya tanaman kakao, budidaya coklat
Perkecambahan Biji
Perkecambahan biji ini dilaksanakan dalam bedengan perkecambahan. Tempat ini biasanya berukuran 0,80-1 meter dan panjangnya tergantung dari keperluan. Bedengan ini harus dibuat pada tanah-tanah yang gembur dan diatasnya dilapisi dengan pasir setinggi 15cm.
Untuk menghindari tetesan air hujan atau pun sengatan matahari, perlu dibuatkan atap. Tinggi atap tersebut kurang lebih 1,5 meter untuk yang sebelah timur dan 1,20 untuk yang sebelah barat.
1. Cara Meletakkan Biji
Biji yang dinamakan eye atau radical yaitu tempat keluarnya akar, diletakkan di sebelah bawah. Jika eye atau mata atau radical tidak dapat dibedakan, maka biji dengan ujung yang besar, diletakkan di bawah. Hal ini memang sangat penting karena kakao bersifat epigaes yang artinya berkecambah dengan keping bijinya di atas tanah. Oleh perpanjangan hypocotyls, keping biji akan terangkat di atas tanah.
Dengan meletakan mata berada di sebelah bawah, lembaga tanaman tidak kehilangan energi untuk mengangkat kepingnya ke atas tanah. Biji di susun dengan jarak alur kurang lebih 3 cm, dan jarak biji satu dengan lainnya dalam alur kurang lebih 1 cm. Biji kita pendam secukupnya, hingga hanya sebagian kecil saja yang tersembul dari tanah. Setelah biji dikecambahkan, bedengan kecambah segera disiram. Penyiraman bedengan kecambah kakao ini haruslah dilakukan sehari dua kali, yaitu pagi dan sore.
2. Pemindahan Kecambah
Setelah 4 atau 5 hari biji-biji itu mulai berkecambah, demikian juga dengan biji-biji yang lainnya. Pada hari ke-12 semua biji akan berkecambah. Pemindahan kecambah ke keranjang ataupun kantong-kantong plastic dilakukan setelah keping-keping biji mulai tersimbul ke atas. Pemindahan dikatakan terlambat bila keping sudah membuka dan sepasang daun kecil telah tumbuh.
Pemindahan yang terlambat memungkinkan terputusnya akar tunggang. Karena akar tunggang ini telah berkembang dan mungkin telah bercabang. Kemudian dipindah, ditanam ke dalam keranjang. Untuk ukuran keranjang maupun kantong-kantong plastik itu tergantung dari kebutuhan saja. Setelah bibit berusia antara 6 sampai 8 bulan, barulah dipindahkan ke lapangan perkebun.
Di dalam keranjang yang berukuran diameter 15-20 cmdengan tinggi antara 30-35, diisi dengan tanah kompos (yang telah betul-betul menjadi tanah) yang dicampur dengan pasir dalam perbandingan 1 : 1. Keranjang atau kantong plastik yang sudah diisi tanah tersebut dengan 1-2 cm di bawah tepi. Pada keranjang atau kantong plastik yang sudah terisi kecambah dipindahkan untuk kemudian dipelihara secara baik-baik.
Pemeliharaan Bibit Dalam Keranjang
Keranjang ataupun kantong plastik yang berisi kecambah tersebut disusun teratur di tanah yang agak ditinggikan dan permukaannya ditutup dengan batu sabak atau batu merah. Peneduh yang di pergunakan dapat dengan pohon pelindung atau dengan atap yang pembuatannya sama seperti pada atap bedengan kecambah.
Penyiraman di lakukan 2 kali sehari yaitu pada pagi hari dan sore hari. Seminggu setelah bibit dipindahkan ke keranjang, pemupukan perlu diberikan. Adapun dosis pemupukan yang diberikan ukurannya adalah sebagai berikut:
1. Pupuk yang bentuknya padat :
2 gram ZA/bibit(/+1 Sendok the), diberikan kurang lebih 3 cm melingkar batang.
2. Pupuk yang bentuknya cair:
Campuran  25 gram ZA ditambah 20 liter air yang diberikan 0,5 liter tiap batang dengan catatan bahwa setelah penyiraman dengan larutan ZA ini, bibit harus segera disiram air untuk menghilkangkan atau mencuci bagian-bagian daun/batang yang terkena larutan tersebut. Perlakukan pemupukan ini dapat dilakukan satu kali satu minggu selama 2 sampai 3 minggu.
Lubang di gali dengan ukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm pada tanah yang cuup subur. Akan tetapi kalau pada tanah ulangan maka lubang diperbesar menjadi 100 cm x 100 cm x 100 cm. Kemudian lubang di biarkan terbuka pada musim kemarau.
Untuk mempertinggi humus di dalam tanah, kita bisa tambahkan potongan rumput, pangkasan flemingia ataupun tunggul-tunggul tanaman jagung. Kemudian pada bulan Oktober / November lubang tersebut di tutup kembali dengan tanah bagian atas saja.
Setelah tiga bulan dari penanaman pemberian pupuk pada tanaman kakao perlu dilakukan dengan dosis 25 gram ZA atau 15 gram Urea. Bila menurut analisa tanah terbukti butuh p dan K, haruslah diberi pupuk N. P. K ± 50 gram.
Perawatan yang baik akan mempercepat pertumbuhan. Jika hama diberantas, pemupukan teratur dan bebas dari saingan rumput-rumput dapat ijamin dalam waktu satu tahun sudah dapat disambung dan tumbuh dengan cepat. 
Pemangkasan.
Ada beberapa hal yang perlu dilakukan dalang pemangkasan pohon kakao, diantaranya :
1. Membentuk pohon yang baik dengan bentuk percabangan yang seimbang sehingga distribusi daun merata dalam penerimaan sinar matahari.
2. Menghilangkan cabang-cabang yang tidak perlu atau pun tidak dikehendaki. Misalkan saja tunas-tunas air, tunas-tunas sapu, cabang-cabang yang sakit, cabang-cabang yang kering, cabang-cabang yang tak dapat berasimilasi sendiri / cabang yang terlindungi.
3. Menjamin aerasi yang baik
4. Untuk mempertinggi produksi yang diperoleh.
Pemangkasan pohon coklat dilakukan pada pohon yang berusia muda. Batang yang umumnya terdiri tiga sampai lima cabang utama dipangkas sehingga tinggal cabang utama sebanyak tiga buah yang dianggap cukup baik.
Langkah selanjutnya adalah melakukan pemangkasan pada cabang yang tidak diinginkan sehingga mendorong tanaman kakao menghasilkan yang lebih baik, juga menjamin aerasi yang baik. Hal ini dilakukan secara continue dan teratur, sehingga mengarah pemangkasan pemeliharaan.
Langkah ketiga yang perlu dilakukan terutama pada tanaman yang sudah menghasilkan, dimana untuk mencegah terganggunya pembuahan tanaman, maka pelaksanaan pemangkasan dilakukan setelah selesai masaflush.
Pelaksanaan pemangkasan, baik itu pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan maupun pangkas yang mengarah pada pendorongan pembuahan / produksi telah banyak dilakukan oleh dinas perkebunan. Dan hasilnya cukup memuaskan.
Pemeliharaan Tanaman
A. Penyiangan
Penyianagan adalah membersihkan tanaman atau rumput penggangu yang tumbuh disekitar tanaman utama, penyiangan biasanya hanya membersihkan yang jaraknya dekat dengan tanaman utama yaitu kakao, sedangkan tanama atau rumput yang tumbuh tetapi jaraknya cukup jauh dengan tanaman utama tidak perlu dibersihkan.
B. Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk menambah unsur-unsur yang kurang dari dalam tanah. Kalau dilihat dari labolatorium maka tanah di Indonesia ini pada pada umumnya kekurangan unsure N, dengan demikian pemberian Urea atau ZA selalu member respon paling nyata.
Kalau di daerah Jawa Barat maupun Jawa Tengah, tanahnya selain kekurangan N, juga kurang unsure P dan K. sedangkan di Jawa Timur kebanyakan tanahnya masih mengandung P dan , kecuali intuk daerah malang bagian selatan.
Karena curah hujan di Indonesia cukup tinggi hal itu akan mempercepat penurunan kesuburan pada tanah apabila tanah dikendalikan dengan baik, bahkan hujan yang turun rata-rata 300 – 450 mm dalam satu bulan hal ini tentu saja melarutkan unsure-unsur hara serta menurunkan kesuburan tanah pertanian dengan cepat.
Bentuk pupuk ada dua macam yaitu puppuk organic dan anorganik, namun untuk tanaman kakao lebih baik adalah pupuk organic. Karena didalam pupuk organik ini semua unsure hampir ada. Selain itu pupuk organic juga dapat memperkaya kandungan humus di dalam tanah yang berarti dapat memperbaiki struktur daya menahan air dan erosi.
Untuk tanaman kakao, pemberian pupuk jangan sampai under ataupun overdosis, kita memberikan pupuk harus denga dosis yang pas supaya tanaman tetap produktif dibawah aturan pemberian pupuk untuk tanaman kakao :
1. Pemberian pupuk umur 1 Tahun: Pupuk N(ZA) 2 x 25 gram. Pupuk P(DS) 2 x 12,5 gram. Pupuk K(KC)  2 x 12,5 gram.
2. Pemberian pupuk umur 2 Tahun: Pupuk N(ZA) 2 x 50 gram. Pupuk P(DS) 2 x 25 gram. Pupuk K(KC) 2 x 25 gram
3. Pemberian pupuk umur 3 Tahun: Pupuk N(ZA) 2 x 100 gram. Pupuk P(DS) 2 x 50 gram. Pupuk K(KC)  2 x 50 gram
4. Pemberian pupuk umur 4 Tahun: Pupuk N(ZA) 2 x 200 gram. Pupuk P(DS) 2 x 100 gram. Pupuk K(KC)  2 x 100 gram
5. Pemberian pupuk umur 5 Tahun: Pupuk N(ZA) 2 x 250 gram. Pupuk P(DS) 2 x 125 gram. Pupuk K(KC)  2 x 125 gram
6. Pada tahaun-tahun berikutmya sama ukurannya seperti pemberian pupuk pada umur 5 tahun.
Pemupukan dilakukan dua kali dalam setahun, dan diberikan pada permulaan musim penghujan dan pada akhir musim penghujan. Pada bulan Maret, Apri, Oktober atau November. Ketentuan diambil agar penggunaan pupuk menjadi lebih efisien, dan tidak larut dalam air hujan. Pemberantasan hama dan penyakit pada tanaman kakao.
Penyakit pada Pohon kakao
Macam-macam penyakit kakao yang perlu diperhatikan yaitu phytophthora Palmivora, penyakit akar dan penyakit-penyakit yang lain.
1. Phytophthora Palmivora.
Penyakit ini disebabkan karena jamur yang namanya phytophthora Palmivora, sedangkan gejala-gejalanya adalah sebagai berikut :
a. Busuk buah atau yang sering disebut black pod disease.
b. Kanker batang atau kulit menjadi busuk.
c. Matinya buah-buahan yang masih kecil dan kemudian berubah menjadi hitam.
d. Menyebabkan kematian di bedengan perkecambahan.
Cara Pemberantasannya
Cara pemberantasannya ialah dengan jalan mengiris atau memotong dan membersihkan kulit yang terkena sampai bagian yang sehat dan kemudian dilumas dengan Carbolineum Plantarium ataupun fungisida-fungisida yang lain. Biasanya masuknya phytophthora ke dalam kulit didahului oleh luka-luka mekanis.
2. Penyakit Akar
Penyakit akar ini serangannya tidak banyak, akan tetapi kalau tidak ditangani dengan serius atau bahkan dibiarkan saja, maka akan meluas dan tempat-tempat lowong menjadi banyak, lama-lama produksi bisa menurun karena jumlah pohon berkurang.
Tanda-tandanya
Tanaman kakao daunnya mongering dan rontok tanpa membentuk tunas lagi, terus mati. Kalau saja akarnya digali akan terlihat akar tersebut telah menjadi busuk dan bila diambil sepotong akar tersebut dan kemudian dicuci maka kita akan melihat bahwa akar tersebut berwarna merah.
Penyebab penyakit akar ini ditimbulkan karena pembukaan kurang bersih, sisa-sisa akar tempat lowong tidak bersih, dengan demikian sumber-sumber infeksi masih ada. Juga bisa karena penaungan yang gelap, tanah yang berat, drainase kurang mengangtifkan sumber infeksi yang ada.
Sedangkan penyakit akar yang lain adalah fames noxius atau juga sering disebut fomeslama oensis atau yang oleh awam dikenal sebagai penyakit jamur akar warna kakao. Daun menguning kadang-kadang tak sempat gugur setelah mongering. Ciri-ciri khasnya terdapat pada leher akar. Kalau saja serangan telah sampai leher akar, maka jamur akan membentuk badan buah, dan mengeluarkan suatu cairan yang amat lekat, bagian tanah, pasir karena tetesan-tetesan air hujan melekat pada leher akar sehingga membentuk lapisan tanah menutupi leher akar. Kalau akar yang akan terkena diperiksa, terdapatlah mycelium-mycelium yang berwarna kakao.
Cara Pemberantasannya
Pemberantasannya dilakukan dengan cara menggali sampaibersih akar tanaman kakao yang sakit, setelah terkumpul, akar-akar itu dibakar. Kemudian satu deret di luar pohon tersebut dibuatkan saluran isolasi sedalam 160 cm untuk mencegah perluasan penyakit tersebut.
3. Penyakit-penyakit yang Lain.
Di sini akan diterangkan beberapa penyakit yang bisa menyerang pohon kakao. Penyakit ini sebenarnya jarang sekali menyerang pohon kakao di Indonesia, namun memang tak ada jeleknya untuk sekedar mengetahui dan untuk pengetahuan. Siapa tahu nanti juga bisa menyerang pohon cokelat yang kita tanam.
Penyakit-penyakit tersebut yaitu jamur diplodia dan jamur upas.
a. Jamur Diplodia
Jamur ini menyebabkan mati pucuk, hanya menyerang tanaman kakao yang physiologis lemah. Tanaman yang kekurangan unsure N, akan mudah diserang penyakit ini.
b. Jamur Upas
Penyakit Jamur Upas atau sering juga pula disebut Corticium salmonicolor menyerang cabang-cabang yang terlindung, gelap hingga kelembaban udara luar.
Gejalanya
Pada permulaan timbul anyaman benang-benang putih disusul dengan pembentukan bintik-bintik yang warnanya putih pula. Perkembangan yang lebih lanjut akan terbentuk suatu jaringan berwarna salm, menutup prmukaan cabang yang diserang.
Pemberantasannya : Dengan jalan memotong akar yang sakit kemudian dibakar.
Hama Pada Pohon Kakao
1. Cacao Mot.
Cacao mot menyerang pada buah. Kupu-kupunya adalah jenis kupu-kupu malam yang menyerang dan meletakkan telurnya setelah matahari terbenam. Telur tersebut diletakkan dipermukaan buah. Setelah telur tadi menetas dan menjadi ulat. Maka ulat-ulat kecil ini yang kemudian membuat lubang dan masuk kedalam buah kakao. Mereka itu lalu tinggal dalam buah, biji  ataupun tempat-tempat saluran makanan.
Karena didalam buah itu banyak dihuni ulat-ulat buahnya pun menjadi rusak. Bijinya kalau buah bisa masak, sukar sekali dilepaskan. Kalau saja ulat-ulat itu menyerang dan memutuskan saluran-saluran makanan maka walaupun buahnya terus tumbuh, bijinya akan tetap muda dan gepeng atau kosong.
Cara Pemberantasannya.
Dahulu untuk memberantas cacao mot selalu dipakai system rampasan, artinya buah-buah yang menggantung di pohon pada bulan oktober semua dirampas. Ini berarti mengorbankan±30% seluruh produksi setahunnya, atau bahkan lebih. Dengan demikian dapat dipastikan kerugian paling sedikit 30%.
Kerugian tersebut bisa bersifat ongkos dan mutu :
1. Ongkos rampasan, ongkos memecah buah yang lebih mahal.
2. Biaya lebih mahal sedangkan produksi lebih kecil
3. Mutunya menjadi rendah hingga mempengaruhu harga jual menjadi lebih rendah.
Setelah diadakan penyelidikan dan penelitian selama bertahun-tahun di Balai Penelitian Perkebunan Bogor, maka pada awal tahun 1992 telah ditemukan cara pemberantasan yang baru untuk gangguan cacao mot ataupun yang seringdikenal dengan nama Acrocercops Cramerella.
Di dalam penemuan ini disebutkan kalau gangguan ini dapat diatasi dengan sistem”Kondomisasi”, yaitu dengan jalan menyelubungi buah-buah kakao dengan bungkus plastik bagian atas diikatkan pada tangkai buah, sedangkan ujung bawah tetap terbuka. Penyelubungan yang terus menerus ini ternyata didalam penyelidikan bisa menekan penurunan produksi dari 80% menjadi 1%.
Praktek kondomisasi buah kakao, ini sekarang sedang digalakkan dan diujicobakan terus diperkebunan-perkebunan kakao di Maluku Utara. Karena telah terbukti kegunaannya maka dinas perkebun pun menganggap bahwa usaha kondomosasi sebagai salah satu dari pencegahan yang baik, atau bahkansangat baik untuk saat ini.
Cara Hidup Cacao mot
Sekedar untuk  pengetahuan maka tak ada jeleknya kalau kita pun mengetahui bagaimana sebenarnya cara hidup dari hama yang disebut cacao mot itu.
Buah-buah kakao dari segala umur,kecuali buah yang masih kurang dari 7 cm dapat diserang oleh cacao mot. Telur-telur cacao mot ini berwarna orange dan berukuran 0,5 x 0,3 mm akan menetas dalam jangka waktu 7 hari. Kemudian ulat-ulat yang keluar dari telur tersebut akan hidup sampai 15-18 hari di dalam buah cokelat, hingga mencapai panjang±10mm. 
Pada masa berkepompong dibuatnya lubang keluar buah dengan benang-benang lender yang keluar dari mulutnya. Melalui benang-benang inilah ia turun ke tanah. Setelah 6 hari keluarlah kupu-kupu dari kepompong tersebut yang hanya berumur 5-7hari. Setelah bertelur, kupu-kupu atau mot itu mati.
2. Helopeltis
Helopeltis ini disamping menyerang buah-buah dari segala umur, juga menyerang tunas-tunas yang masih muda. Akan tetapi hama ini lebih senang menyerang buah kalau dibandingkan dengan tunas-tunas yang masih muda. Sebab kalau memang tak ada buah, barulah hama helopeltis ini menyerang tunas-tunas muda.
Buah-buah cokelat yang diserang helopeltis ini akan kelihatan kalau ada bekas-bekas tusukan dan berupa bintik-bintih hitam pada permukaan buah. Kalau ada serangan yang hebat, maka seluruh permukaan buah menjadi busuk. Sedangkan pada buah-buah muda yang lebih kecil dari 5 cm biasanya pada puncak-puncak serangan akan mongering. Sedangkan kalau padabuah yang lebih besar,efeknya adalah pertumbuhan buah tersebut tak akan sempurna, tidak dapat mencapai ukuran besar yang wajar. Mutunya juga akan menurun karena bijinya akan tetap mengecil.
Kalau kebun kakao kita ini sedang tidak berbuah hama helopeltis akan menyerang pada tunas-tunas yang masih muda. Akibat dari serangan helopeltis, pucuk-pucuk yang diserang akan menjadi kering dan layu. Demikian juga dengan daun-daunnya. Kalau saja ada tanaman cokelat yang tumbuh gundul dan cabang-cabangnya kering, dapat dipastikan bahwa pohon tersebut diserang hama helopeltis.
Pembentukan tunas baru memang masih bisa terjadi. Nanti kalau ada serangan ulang dari helopeltis maka keadaan pohon akan menjadi bertambah gawat. Bisa saja pucuk-pucuk pohon itu tumbuh dengan pucuk baru, namun kalau helopeltis tidahk dicegah dan diberantas maka ia akan menyerang lagi. Bila ini dibiarkan bertahun-tahun dipastikan pohon kakao akan hancur dan mati.
Akibat lain kalau sampai tanaman cokelat menjadi gundul adalah, karena kekurangan daun maka tanah di bawah menjadi terbuka dan sering kena sinar matahari secara langsung. Dengan begitu segala macam rumput,teki, atau pun alang-alang akan dapat tumbuh dengan cepat. Ini semua akan mengakibatkan regenerasi kakao bertambah sulit.
Bila sudah dalam keadaan demikian. Dapat dipastikan dalam waktu dua tahun berturut-turut akan mengalami kerugian karena tidak ada produksi atau bila ada, tidak akan bisa menutup ongkos-ongkos pembiayaan.
Cara Hidup Helopeltis
Telur-telur helopeltis dimasukkan kedalam buah kakao dalam 2-3 kelompok. Pemasukan ini dilakukan dengan menggunakan alat yang disebut ovipositor. Sedangkan stadium dari telur menjadi larva antara 6-24 hari dan ini tergantung dari tinggi rendahnya tempat. Kemudian larva-larva dari telur itu dengan amat lincahnya berpindah dari satu buah ke buah lainnya. Ini dilakukan meskipun mereka belum mempunyai sayap.
Setelah mengalami pergantian kulit 5 kali berturut-turut dalam waktu 110 hari, kemudian pergantian kulit yang ke-6 kalinya inilah yang menjadikan larva-larva ini menjadi binatang dewasa adalah munculnya semacam tanda dipunggung dan juga telah mempunyai sayap yang sempurna.
Helopeltis terdiri dari 2 jenis, yaitu:
1. Jenis Helopeltis Antonii.
2. Jenis Helopeltis Theivora
Tanda-tanda helopeltis antonii adalah warnanya hitam dan pada dadanya berwarna merah, tanduknya kelihatan lurus. Sedangkan kalau helopeltis theivora berwarna hitam dan dadanya merah, tanduknya membengkak ke belakang.
Keadaan cuaca dan persediaan makanan mempengaruhi kecepatan pembiakannya. Bila persediaan makanan banyak, keadaan lembap dan panas, perkembangannya sangat cepat. Sedangkan bila udara kering terutama pada waktu musim kemarau, pembuatan telur ada kalanya terhenti, dengan demikian populasi akan menurun.
Cara pemberantasannya
Cara memberantas hama helopeltis bisa menggunakan endrin 19,2 EC. Dengan kadar 0,4 %. Percobaan ini ternyata membawa hasil yang baik dan tidak berpengaruh jelek dalam pembentukan buah. Atau bisa menggunakan BHC Spray 0,5% dan Basudin 60 0,2%. Perlu diketahui bahwa sebaiknya waktu penyemprotan dilakukan malam hari antara pukul 18.00 – 20.00, sebab saat itu pergerakan helopetis lebih lamban atau bahkan telah diam sama ekali.
3. Ulat Kilan
Hama lain adalah ulat kilan atau yang sering disebut hyposidra talaca Wilk dan Antitrygodes divisaria Wilk. Ulat-ulat tersebut menyerang daun kakao.
Pemberantasannya dengan mempergunakan insektisida, antara lain Endrin 19,2 EC 0,4 BHC Spray 0,5%, Thiodan 35 0,2%, Anthio 40 0,2%. Caranya bahan-bahan tersebut disemprotkan.

Laporan Fieldtrip ( Budidaya Tanaman Kembang Kol )



KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum Wr.Wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat melaksanakan serta menyusun laporan kegiatan fieldtrip yang dilaksanakan di Desa Tongko Kec. Baroko Kab. Enrekang. Laporan fieldtrip ini dibuat sebagai tugas tambahan dan merupakan kewajiban kami sebagai mahasiswa dalam menyelesaikan proses pembelajaran mata kuliah Budidaya Tanaman Hortikultura
Sebagai bahan laporan fieldtrip untuk mata kuliah ini adalah tentang Teknik Budidaya Tanaman Kembang Kol (Brassica oleracea var. botrytis L. subvar.cauliflora DC) di Desa Tongko Kec. Baroko Kab. Enrekang .
Ucapan terimakasih juga kami hanturkan kepada semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian makalah ini. Dan kami sadar bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, kritik dan saran yang sifatnya konstruktif sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan pertanian di Indonesia dan menjadi bahan referensi bagi pembacanya.




DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR                         …………………………………………………           ii
DAFTAR ISI                               ……………………………………………………….          iii
BAB. I.  PENDAHULUAN                         ……………………………………………           1
I.      1.  Latar belakang                            ………………………………………..           1
I.      2.  Rumusan Masalah        ……………………………….............   ..........           2
I.    3.   Tujuan                        .............................................................................           2
I.    4.   Manfaat                      .............................................................................           2
BAB. II.  TINJAUAN PUSTAKA                     ..............................................................           3
II.   1.  Sekilas Tentang Tanaman Kembang Kol           ................................           3
II.   2.  Syarat Tumbuh  ....................................................................................           3
II.   3.  Teknik Budidaya                    ..................................................................           4
BAB. III. KEADAAN UMUM LOKASI   ………………………………….. ................           8
III.  1.  Letak Geografis                    ....................................................…………           8
III.  2.  Wilayah Administrasi          .................………………….......................          8
III.  3.  Ketinggian Tempat               ...................................................................           8
III.  4.   Kemiringan                     ........................................................................           9
III.  5.   Keadaan Tanah                ......................................................................           9
III.  6.   Iklim                   .....................................................................................           9
III.  7.   Luas Lahan Pertanian            ...............................................................           9
BAB. IV. METODOLOGI KEGIATAN                              ............................................         11
IV. 1.  Waktu dan Tempat                ...................................................................         11
IV. 2.  Alat dan Bahan              ..........................................................................         11
IV. 3.   Alur Kerja                    .............................................................................         11
BAB. V. HASIL DAN PEMBAHASAN               .........................................................         12
           V.  1.   Keadaan Petani                           ...........................................................         12
           V.  2.   Sistem Budidaya Tanaman Kembang Kol Petani Setempat   ........         13
           V.  3.   Pemasaran Hasil oleh Petani             ..................................................         14
BAB. VI. PENUTUP                     ................................................................................         16
           VI. 1.   Kesimpulan            ................................................................................         16
           VI. 2.   Saran                   ..................................................................................         17
DAFTAR PUSTAKA                               .......................................................................         18
LAMPIRAN (KUISIONER DAN DOKUMENTASI KEGIATAN)          ....................         19
           -     Kuisioner                   ..................................................................................         19
           -     Dokumentasi                      .........................................................................         20



BAB. I
PENDAHULUAN
I. 1. Latar belakang
Fieldtrip yang dilakukan kali ini adalah untuk mengetahui cara budidaya tanaman hortikultura khususnya budidaya tanaman Bunga kol ( Brassica oleracea var. botrytis L. subvar. cauliflora DC). Dalam pertanian, budidaya merupakan kegiatan terencana yang meliputi pemeliharaan sumber daya hayati yang dilakukan pada suatu areal lahan untuk diambil manfaat / hasil panennya. Kegiatan budidaya dapat dianggap sebagai inti dari usaha tani.
Bunga kol ( Brassica oleracea var. botrytis L. subvar. cauliflora DC) adalah jenis sayuran yang masuk dalam famili Brassicaceae (jenis kol dengan bunga putih kecil). Masyarakat Indonesia biasa menyebutnya kubis bunga atau blum kol (berasal dari bahasa Belanda Bloemkool). Tanaman ini berasal dari Mediterania yang memiliki iklim subtropis, dan dikembangkan oleh Mc.Mohan ahli benih dari Amerika pada tahun 1866. Bunga kol diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad XIX yang dibawa oleh orang-orang dari India.
Untuk membudidayakan bunga kol, awalnya hanya bisa ditanam di daerah yang memiliki temperatur minimum 15.50-180 C dan maksimum 240 C dengan kelembaban optimum antara 80-90%.. Tapi dengan diciptakannya kultivar baru yang tahan terhadap temperatur tinggi, membuat budidaya bunga kol juga dapat dilakukan di dataran rendah (0-200 m dpl) serta menengah (200-700 m dpl).
Dalam kegiatan fieldtrip kali ini, mahasiswa Agronomi dalam melakukan kegiatan diutamakan pada tanaman holtikultura tentang teknik budidaya yang baik dan juga pemasaran tanaman dan hasil tanaman.

I. 2. Rumusan masalah
Dari uraian di atas, yang menjadi permasalahan dalam laporan ini yaitu :
-     Bagaimana keadaan umum lokasi fieldtrip tersebut ?
-     Bagaimana teknik budidaya tanaman kembang petani di Lokasi tersebut ?
-     Bagaimana teknik pengendalian hama yang dilakukan petani di Lokasi             tersebut ?
-     Bagaimana proses pemasaran hasil produksi petani kembang di Lokasi             tersebut ?
I. 3. Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dari Laporan Fieldtrip ini, yaitu :
-     Untuk mengetahui keadaan umum lokasi tersebut.
-     Untuk mengetahui teknik budidaya tanaman kembang kol di Lokasi tersebut
-     Untuk mengetahui teknik pengendalian hama yang dilakukan petani di lokasi             tersebut.
-     Untuk mengetahui proses pemasaran hasil produksi tanaman kembang kol      dilokasi tersebut
I. 4. Manfaat
Laporan ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
-     Menjadi salah satu bahan informasi bagi masyarakat secara umum.
-     Dapat memberikan informasi ilmiah bagi petani dan instansi terkait tentang       Budidaya Tanaman Kol.

BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA
II. 1. Sekilas Tentang Tanaman Kembang Kol
Bunga kol ( Brassica oleracea var. botrytis L. subvar. cauliflora DC) adalah jenis sayuran yang masuk dalam famili Brassicaceae (jenis kol dengan bunga putih kecil). Masyarakat Indonesia biasa menyebutnya kubis bunga atau blum kol (berasal dari bahasa Belanda Bloemkool). Tanaman ini berasal dari Mediterania yang memiliki iklim subtropis, dan dikembangkan oleh Mc.Mohan ahli benih dari Amerika pada tahun 1866. Bunga kol diperkirakan masuk ke Indonesia pada abad XIX yang dibawa oleh orang-orang dari India.
II. 2. Syarat Tumbuh
Untuk membudidayakan bunga kol, awalnya hanya bisa ditanam di daerah yang memiliki temperatur minimum 15.50-180 C dan maksimum 240 C dengan kelembaban optimum antara 80-90%.. Tapi dengan diciptakannya kultivar baru yang tahan terhadap temperatur tinggi, membuat budidaya bunga kol juga dapat dilakukan di dataran rendah (0-200 m dpl) serta menengah (200-700 m dpl).
Bunga kol lebih menyukai tanah lempung daripada tanah yang liat, tapi bisa toleran pada tanah berpasir atau liat berpasir. Tanah harus subur, gembur serta mengandung banyak bahan organik. Unsur hara mikro yang ada pada tanah tidak boleh kekurangan magnesium (Mg), molibdenum (Mo) dan Boron (Bo). Jika kurang, maka harus dicukupi dari pupuk.
II. 3. Teknik Budidaya
Untuk dapat membudidayakan kembang kol/bunga kol dengan baik dan memperoleh hasil yang maksimal, berikut kami tampilkan beberapa cara menanam kembang kol yang baik berikut ini :
A.  Persemaian
Untuk menyemai bunga kol dapat dilakukan di dalam bumbung yang terbuat dari daun pisang atau kertas plastik berdiameter 4-5 cm dengan tinggi 5 cm atau menggunakan polybag berukuran 7×10 cm. Media yang digunakan adalah pupuk kandang dan campuran tanah halus dengan perbandingan 2:1. Sebelum digunakan, media harus disterilkan dengan cara mengukus media semai pada suhu 55-100˚C selama 30-60 menit. Dapat pula dengan menyiramkan larutan formalin 40% kemudian ditutup plastik selama 24 jam untuk selanjutnya diangin-anginkan.
Selama persemaian harus dilakukan penyiraman dua kali sehari, naungan persemaian dibuka setiap pagi dan sore, menyiangi gulma di sekitar tanaman, dan memberikan larutan urea dengan konsentrasi 0,5 gr per liter serta menyemprotkan pestisida ½ dosis.
B.  Persiapan Lahan
Awal langkah persiapan lahan dilakukan dengan membuat bedengan selebar 80-100 cm dengan tinggi 35 cm, dan jarak antar bedeng 40 cm. Cara pembuatan Bedengan, yakni dengan membersihkan lahan dari tanaman liar dan sisa-sisa akar kemudian dicangkul sedalam 40-50 cm. Selain membuat bedengan juga dilakukanlah pengapuran lahan jika pH tanah lebih rendah dari 5,5. Dosis pengapuran antara 1-2 ton/ha dalam bentuk kalsit atau dolomit.
Kapur dimasukkan ke dalam tanah pada saat pembuatan bedengan. Selama pembuatan bedengan itu pula dilakukan pemupukan dengan dosis pupuk kandang berkisar antara 12,5-17,5 ton/ha, serta pupuk dasar berupa ZA, Urea, SP-36 dan KCl dengan dosis masing-masing 250 kg yang disebar me rata dan dicampur dengan tanah di bedengan.
C.  Penanaman
Waktu tanam dapat dilakukan pada pagi atau sore hari. Sementara untuk bibit yang akan ditanam, harus memiliki 3-4 helai daun atau kira-kira berumur 1 bulan, dengan jarak tanam 50×50 cm untuk kultivar dengan tajuk melebar dan 45×65 cm untuk kultivar dengan tajuk tegak.. Saat penanaman, lakukan dengan hati-hati dan jangan sampai merusakkan akar atau daun.
D.  Pemeliharaan
Untuk langkah-langkah pemeliharaan terdiri atas berbagai aktifitas diantaranya adalah :
-     Penyulaman
Untuk tanaman bunga kol yang rusak ( tidak sehat ) atau yang mati harus diganti dengan tanaman baru atau yang lazim disebut penyulaman. Penyulaman dilakukan sampai tanaman berumur 2 MST.
-     Penyiangan
Penyiangan harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak akar tanaman. Penyiangan dihentikan pada akhir fase vegetatif.
-     perempelan
Untuk tunas yang keluar dari cabang, harus dilakukan perempelan sedini mungkin agar ukuran dan kualitas massa bunga dapat terbentuk optimal. Setelah massa bunga terbentuk, agar massa bunga ternaungi dari cahaya matahari, maka daun-daun tua diikat. Penaungan berfungsi untuk mempertahankan warna bunga agar tetap putih.
-     pemupukan
Pemberian pupuk susulan sebanyak 3 kali dilakukan selama masa pertumbuhan :
*     Pertama, diberikan 7-10 HST yang terdiri dari SP-36 150 kg/ha, Urea 75 kg/ha, ZA 150 kg/ha, dan KCl 75 kg/ha
*     Kedua, diberikan 20 HST yang terdiri dari Urea 75 kg/ha, ZA 150 kg/ha SP-36 75 kg/ha,  dan KCl 150 kg/ha.
*     Ketiga, diberikan 30-35 HST yang terdiri dari Urea 100 kg/ ha, ZA 150     kg/ha dan KCl 150 kg/ha. Jika perlu diberikan juga pupuk daun  dengan kadar N dan K tinggi.
E. Pengairan dan Penyiraman
Agar tumbuh dengan baik, tanaman bunga kol harus diairi pada pagi dan sore hari, 1 terutama pada saat tanaman berada pada fase pertumbuhan awal dan pembentukan bunga.
F. Pengendalian HPT
Untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman (HPT) kembang kol, dilakukan lewat rotasi tanaman dengan tanaman selain famili kubis-kubisan. Sedang untuk pengendalian biologis dengan cara mengaplikasikan organisme yang menjadi musuh bagi hama serta mengaplikasikan pestisida biologis atau kimiawi.
Cara lain untuk mengendalikan penyakit adalah dengan menggunakan bibit bebas patogen dan penyakit, serta merendam benih ke dalam air panas (50˚ C) atau di dalam fungisida / bakterisida selama 15 menit. Disamping itu juga lewat sanitasi kebun, menanam kultivar tahan penyakit, rotasi tanaman, pembersihan patogen pada media persemaian, tidak menggunakan tanaman yang rusak karena serangan hama, pemberian kapur pertanian pada lahan ber-pH asam dan membuang tanaman berpenyakit. Bila perlu, lakukan penyemprotan pestisida 2 minggu sekali untuk mencegah serangan hama dan penyakit.
G. Panen
Bunga kol dapat dipanen pada umur 55-100 hari setelah masa tanam, tergantung dari kultivar yang ditanam. Panen dapat dilakukan pada pagi atau sore hari. Setelah dilakukan pemanenan, kegiatan berlanjut dengan melakukan penyortiran dan menyimpan di storage.


BAB. III
KEADAAN UMUM LOKASI
III. 1. Letak Geografis
Wilayah Kecamatan Baroko Kab. Enrekang secara geografis terletak antara 130 180 360 LU dan 300 5000 LS dan diantara 130 180 360 BT.
Kecamatan Baroko Kab. Enrekang berbatasan dengan :
-     Sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Tanah Toraja
-     Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Curio
-     Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Alla
-     Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Alla
III. 2. Wilayah Administrasi
Secara administrasi luas wilayah Kec.Baroko adalah 41,08 Km2, yang terdiri dari 5 Desa/Kelurahan definitif.
Jumlah Desa/Kelurahan dan luas wilayah berdasarkan luas statistic Kecamatan Baroko adalah sebagai berikut :
1.   Desa Baroko, luas wilayah 9,40 Km2
2.   Desa Tongko, luas wilayah 9,41 Km2
3.   Desa Benteng Alla, luas wilayah 6,56 Km2
4.   Desa Patongloang, luas wilayah 6,26 Km2
5.   Desa Benteng Alla Utara, luas wilayah 11,14 Km2
III. 3. Ketinggian Tempat
Desa Tongko Kecamatan Baroko sebagai lokasi pelaksanaan fieldtrip berada pada ketinggian 1100 – 1400 mdpl, sehingga sangat cocok untuk membudidayakan tanaman hortikultura.
III. 4. Kemiringan
Keadaan topografi Desa Tongko Kec. Baroko, yaitu medan yang dilalui bergelombang, berbukit dan bergunung serta lebah yang sangat curam. Sehingga terdapat perbedaan kemiringan tempat, sebagai berikut :
-     Kemiringan antara 2-14 %, sebanyak 1125 Ha
-     Kemiringan antara 15-40 %, sebanyak 1793 Ha
-     Kemiringan antara 41 % keatas, sebanyak 556 Ha
III. 5. Keadaan Tanah
Jenis tanah yang ada di Desa Tongko Kec. Baroko terbagi kedalam 2 golongan, yaitu jenis tanah Mediteran dan Potsolik dengan pH tanah 5,4 – 6,2.
III. 6. Iklim
Berdasarkan data curah hujan station 3390 yang berada di Kecamatan Alla. Kecamatan Baroko pada umumnya dan Desa Tongko pada khususnya berada pada tipe C2, yaitu :
-     Bulan basah 6 -7 bulan
-     Bulan kering 4 – 5 bulan
III. 7. Luas Lahan Pertanian
Luas lahan pertanian Kec. Baroko secara umum hingga tahun 2010 adalah seluas 4151 Ha yang terdiri dari lahan basah/sawah dan lahan kering.
a.   Lahan basah :
-     Sawah        : 255 Ha
-     Kolam          : -
b.   Lahan kering :
      -     Pekarangan     : 137 Ha
      -     Tegalan            : 1458 Ha
      -     Perkebunan     : 1442 Ha
      -     Padang rumput : 122 Ha
      -     Hutan                : 258 Ha
Khusus untuk wilayah Desa Tongko Kec. Baroko, luas lahan menurut fungsi dan ekosistemnya dapat dibagi, sebagai berikut :
-     Total luas lahan    : 941 Ha
-     Pekarangan           : 37 Ha
-     Tegalan                  : 559 Ha
-     Perkebunan           : 301 Ha
-     Padang rumput     : 36 Ha
-     Hutan                      : 31 Ha
-     Sawah                    : 5 Ha
Luas lahan menurut komoditi yang diusahakan, umumnya ditanami tanaman sebagai berikut :
a.   Sawah              : 5 Ha
b.   Tegalan
      -     Palawija      : 5 Ha
      -     Sayuran      : 491 Ha
      -     Lain-lain     : 32 Ha
c.   Perkebunan
      -     Kakao          : 17 Ha
      -     Kopi             : 300 Ha
      -     Cengkeh    : 6 Ha
      -     Vanili           : -
      -     Lain-lain     : 7 Ha.


BAB. IV
METODOLOGI KEGIATAN
IV. 1. Waktu dan Tempat
A. Waktu :
Waktu pelaksanaan kegiatan fieldtrip ini selama 3 hari dari tanggal 30 Mei s/d 01 Juni 2014. Pengambilan data / wawancara terhadap responden ( petani ) dilaksanakan pada tanggal 31 Mei 2014, pukul 09.00 WITA.
B. Tempat
Tempat pelaksanaan kegiatan fieldtrip ini di Desa Tongko Kecamatan Baroko Kab. Enrekang Prov. Sulawesi – selatan.
IV. 2. Alat dan Bahan
A. Alat :
-  Pulpen                             : untuk mencatat hasil wawancara
- Buku dan Kuisioner       : untuk mencatat hasil wawancara
- Kamera                             : untuk dokumentasi
B. Bahan : -
IV. 3. Alur Kerja
Siapkan alat dan bahan
Berkenalan dengan responden ( petani )
Berkunjung ke lahan petani
Mulai wawancara
Catat hasil wawancara
Dokumentasi setiap kegiatan
Buat laporan kegiatan


BAB. V
HASIL DAN PEMBAHASAN
V. 1. Keadaan Petani
   Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang terkenal dengan bermacam – macam komoditas yang dibudidayakan, terutama tanaman hortikultura. Seperti Kol/Kubis, Kembang Kol, bawang merah, bawang prei, sawi, Wortel, Kentang, Kacang-kacangan, dll. Tepatnya hari sabtu, tanggal 31 Mei 2014 pukul. 09.00 pagi WITA, kami melakukan wawancara dengan salah satu petani yang ada di Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang yang bernama Bapak Safar. Umur beliau + 39 tahun. Salah satu petani yang menanam komoditas Kembang Kol. Dari menanam komoditas tersebut, hasil produksi kemudian dijual sebagai mata pencaharian utama pak safar. Selain menjadi petani, bapak Safar juga seorang pegawai honorer di wilayahnya.
Dulunya beliau berprofesi sebagai petani kopi tetapi kebun kopi yang dimilikinya sudah tidak produktif lagi dan terserang berbagai hama/penyakit. Hal tersebut dikarenakan umur tanaman kopinya sudah tua tanpa adanya peremajaan tanaman. Akhirnya, lahan yang tadinya ditanami tanaman kopi kemudian diganti menjadi tanaman hortikultura salah satunya adalah tanaman kembang kol. Bapak safar sudah lama membudidayakan tanaman kol namun pengetahuan akan teknik budidaya tanaman kembang kol masih kurang, ditambah lagi keadaan perekonomian bapak safar jauh dari kata sejahtera sehingga modal menjadi halangan utama dalam melakukan usaha budidaya tanaman kembang kol.
Dalam melakukan aktivitas pertanian  Bapak Saktiar mempunyai kepercayaan atau adat istiadat yaitu didasarkan pada tanggal dan tahun tertentu. Perkiraan cuaca juga menjadi kepercayaan dalam menentukan komoditas apa yang akan ditanam. Masyarakat Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang mempunyai kebiasaan bergotong royong dan penuh kebersamaan yang sifatnya berbagi pengalaman antara satu petani dengan petani lainnya. Petani di desa tersebut umunya sangat sulit mendapatkan pinjaman modal dari Bank sehingga masyarakat disana kesulitan setiap kali akan memulai usaha taninya. Satu-satunya cara yang ditempuh masyarakat disana untuk mendapatkan modal usaha yaitu melalui tengkulak.
V. 2. Sistem Budidaya Tanaman Kembang Kol Petani Setempat
Sistem budidaya yang dilakukan oleh bapak Safar adalah monokultur, yaitu menanam satu jenis komoditi pada satu lahan tanpa ada jenis komoditi lain. Berbeda dengan kebanyakan masyarakat disana yang sistem budidayanya tumpang sari, dimana tanaman kol ditumpangsarikan dengan tanaman bawang.
Jenis lahan yang digarap oleh bapak Saktiar adalah tegalan dengan luas lahan 15 Are. Lahan tersebut merupakan warisan dari orang tuanya yang kemudian beliau kelolah sendiri bersama istri dan kedua anaknya.
Dalam melakukan kegiatan budidaya beliau menggunakan cara –car yang sangat sederhana yaitu dengan hanya menggunakan cangkul untuk olah tanah. Begitu juga dengan pemberian pupuk, pemberian pupuk tanaman monokultur ini setiap 6 bulan sekali tiap panen dan hanya menggunakan satu jenis pupuk setiap kali tanam. Jika kekurangan modal hanya menggunakan pupuk Urea atau Za saja, namun jika modalnya cukup maka akan ditambahkan pupuk majemuk berupa NPK Ponska seadaanya. Petani selain menggunakan pupuk juga menggunakan insektisida dan fungisida yang diberikan minimal setiap 15 hari sekali.
Dalam budidaya tanaman dan pengolahan lahan tentunya tidak lupa dengan penggunaan pupuk sebagai bahan yang dapat membantu penyuburan tanah maupun tanaman. Dalam budidaya tanaman ini, petani menggunakan pupuk kandang yang berasal dari kotoran ternak, baik berupa padatan (feces) yang bercampur sisa makanan, ataupun air kencing (urine) dan pestisida kimia. Untuk pupuk kandang petani memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik. Kotoran ternak tersebut tanpa diolah menjadi kompos namun langsung diaplikasikan sebagai pupuk organik.
V. 3. Pemasaran Hasil oleh Petani
   Tanaman Kol yang ditanam oleh Bapak Safar ini memiliki jangkauan pemasaran yang cukup luas, merambah hingga pulau Kalimantan. Namun, skala budidaya yang relatif masih kecil membuat permintaan ke daerah lain tidak mampu dipenuhi.
   Disamping itu, faktor penghambat lain pada saat musim panen untuk jenis komoditi kembang kol ini, hasil panen Bapak safar langsung diminta oleh tengkulak atau pedagang pengumpul sehingga dari aspek pemasarannya pun sempit yaitu cukup pada tengkulak atau pedagang pengumpul saja yang oleh pihak tengkulak atau pedagang pengumpul hasil panen tersebut dipasarkan kepada pedagang besar untuk dijual ke daerah lain yang harga jualnya ialah hampir 100 % mengambil harga awal yang diberikan oleh Bapak Safar.
   Hal ini terjadi karena menurutnya, beliau belum mampu memasarkan hasil panennya sendiri dikarenakan kurang keterampilan pemasaran yang jauh dari jangkauannya. Selain itu, beliau juga mengatakan bahwa pada saat musim panen beliau memang benar-benar membutuhkan uang segera sehingga pemikiran untuk memasarkan hasil panennya sendiri juga tampak dirasanya sangat sulit.
Beliau sangat mengharapkan peran serta pemerintah agar memperhatikan usaha budidayanya, karena potensi yang dimiliki Desa Tongko Kec. Baroko pada umunya sangat besar untuk membudidaya tanaman hortikultura.


BAB. VI
PENUTUP
VI. 1. Kesimpulan
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa jenis tanaman yang dibudidayakan oleh Bapak Safar di Desa Tongko Kec. Baroko Kab. Enrekang seluas 15 are.
. Dalam melakukan aktivitas pertanian Bapak Safar mempunyai kepercayaan atau adat istiadat yaitu didasarkan pada tanggal dan tahun tertentu. Selain itu, perkiraan cuaca juga ditentukan oleh hasil musyawarah warga setempat dan menjadi kepercayaan dalam menentukan komoditas apa yang akan ditanam.
Teknik budidaya yang dilakukan bapak Safar tergolong masih jauh dari teknologi pertanian yang sudah ada, hal tersebut terlihat dari penggunaan alat dalam mengolah tanah yaitu masih menggunakan cangkul. Selain itu, pengetahuan tentang sistem budidaya tanaman kol masih minim. Sistem yang diterapkan tidak sesuai dengan sistem/cara-cara yang sudah ada yang lebih maju.
Pemasaran hasil juga masih mejadi kendala terbesar dalam melakukan usaha budidaya tanaman kol di Desa tersebut. Masyarakat di desa tersebut pada umumnya menjual hasil produksinya kepada para tengkulak atau pedagang pengumpul sehingga harga yang diterima sangat rendah.
Faktor modal juga menjadi kendala terberat dalam melakukan usaha tani di desa tersebut. Tidak adanya pihak apalis ataupun pihak perbankan yang mau meminjamkan modal kepada petani sehingga para petani memijam modal kepada tengkulak yang bunganya sangat tinggi.
VI. 2. Saran
  Dari hasil kegiatan wawancara yang dilakukan kepada salah satu petani Kol di desa tersebut yaitu bapak Safar, maka diperoleh beberapa fakta terkait masalah – masalah yang dialami petani selama melakukan usaha budidaya tanaman Kembang Kol. Dari masalah tersebut kami mencoba memberikan saran ataupun solusi, antara lain :
a.    Pengetahuan akan teknik budidaya tanaman kembang kol masih kurang, sehingga diharapkan agar mampu menambah pengetahuannya tentang teknik budidaya tanaman kembang kol. Baik melalui pelatihan – pelatihan yang diselenggarkan pemerintah/swasta maupun usaha sendiri untuk memperoleh informasi yang lebih banyak tentang teknik budidaya tanaman kembang kol.
b.    Kekurangan modal setiap kali akan memulai usaha tani. Hal tersebut dapat   diantisipasi lebih awal dengan cara menabung setiap kali panen sebelumnya. Pihak dari pemerintah juga diharapkan berperan lebih banyak dalam memecahkan permasalahan ini.
c.     Pasar hasil usaha tani masih relatif lebih pendek artinya jangkauannya masih pendek. Masyarakat petani Kembang Kol di Desa tersebut hanya menjual hasil usaha taninya kepada para tengkulak atau pedangang pengumpul dimana harganya sangat rendah. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu adanya peran pemerintah dalam mengakses pasar   hortikultura yang lebih besar sehingga harga ditingkat petani jauh lebih besar. Selain itu, peran masyarakat sendiri dalam mencari informasi pasar yang lebih besar  sehingga dalam melakukan usaha tani tidak mengalami kerugian.

DAFTAR PUSTAKA
-     Anonymous. 2010. Data BPP Baroko Kecamatan Baroko Kab. Enrekang.  Enrekang.
-     Arief, Arifin. 1990. Hortikultura. Andy Offset. Yogyakarta.
-     Rahmat Rukmana, Ir. 1994. Budidaya Kubis Bunga dan Brokoli. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
-     Williams, C.N., J.O. Uzo, & W.T.H. Peregrine. 1993. Produksi Sayuran di Daerah       Tropika. Gajah Mada University Press. Diterjemahkan oleh Ronoprawiro, S. & Tjitrosoepomo, G.
Search Google :
-     http://obatpertanian.com/cara-menanam-kembang-kol-yang-baik-dan-benar.html. Di akses pada tanggal 16 Juni 2014, pukul : 14.15 WITA